Wednesday, July 13, 2016

The 21 Centimeters Man





“Hah! Hampir saja bus itu menabrak colt di depannya!” tiba-tiba aku nyeletuk dengan seseorang lelaki yang juga berdiri cukup lama di dekatku di Terminal Cililitan.

“Iya, untung aja sopirnya lincah, kalau enggak ringsek tuh colt” dia menimpali celetukanku.

Ini adalah Malam Minggu pertama sejak aku menetap di Ibukota tercinta. Dari referensi sebuah buku yang pernah aku baca, dikatakan bahwa di daerah Terminal Cililitan banyak kaum Gay yang kumpul-kumpul di waktu malam.

Dengan sedikit keberanian aku coba kenali lenggoknya Jakarta di Cililitan. Dan aku masih awam, serta menebak-nebak, yang mana kumpulan anak G tersebut. Ah, nikmati saja terminal yang super semrawut ini.

“Mau rokok Mas?” tiba-tiba laki-laki di sebelahku itu menawari rokok.

“Boleh”.

Cukup lumayan juga lelaki ini bathinku. Sambil mengambil sebatang rokok yang ia tawarkan, aku perhatikan penampilannya. Dengan kemeja rapi, rambut tersisir rapi dengan kilap jellynya. Serta kumisnya yang rapi bagus dan tebal, mengingatkan aku dengan Slamet Rahardjo. Walau badan sedikit kurusan, justru ini menimbulkan kesan seksi.

“Kalau mau ke Pejompongan, naik bus nomor berapa ya?” tanyaku untuk mengisi omongan, sekalian mencari informasi supaya jangan tersesat.

Dan akhirnya kami terlibat omongan yang panjang lebar, mengasyikkan. Dari situasi terminal yang semrawut, sampai pada harga barang-barang yang semakin melambung. Pokoknya semua diomongkan. Namanya Budi, orang betawi ada sedikit mengalir darah Arab.

Tak terasa waktu sudah sangat larut malam. Aku mesti pulang, takut tidak dapat angkutan dan situasi terminal sudah agak sepi. Rasanya was-was juga.

“Bud, aku mau pulang. Udah malam nih.”

“Hmm, kalau mau nginap di tempat saya aja.”

Really, aku jadi ragu terhadap tawaran tersebut. Menyadari aku orang baru di Jakarta dan ketemu orang yang baru saja aku kenal. Tetapi rasanya Budi sangat hangat ngajak ngobrol denganku. Apalagi wajah dan penampilannya cukup simpatik.

“Apa nggak ngerepoti nantinya?”

“Nggak, nyantai aja.”

“OK deh.” akhirnya kuputuskan untuk ikut pulang ke tempat tinggalnya, karena besok hari libur, dan tidak ada lagi kerjaan yang harus aku kerjakan.

Kami pergi berdua naik colt omprengan. Ke daerah yang tentu saja tidak aku ketahui daerah mana itu. Sampai di tempatnya, ternyata tempat kos-kosan, dia baru cerita bahwa ia tinggal kos dengan temannya.

“Wah, An kita harus nungguin temenku, belum pulang, kuncinya dibawa dia.”

“Iya deh” tidak ada pilihan lagi. Lalu kami berdua duduk di kursi panjang depan kamarnya. Suasana remang-remang dan sangat sepi, kamar-kamar sebelahnya gelap, seperti sudah terlelap tidur semua. Udara terasa sangat dingin, sekitar jam 2 dini hari.

Kami melanjutkan obrolan di kursi tersebut. Tiba-tiba antara sengaja dan tak sengaja, tangan kami saling bersentuhan. Desir keras mengalir darah ke jantungku. Dan sentuhan tersebut berlanjut dengan saling meremas tangan. Benar-benar dadaku bergejolak. Aku masih sangat hijau dengan urusan yang bernama lelaki.

Saling remas itu berlanjut.. dan sepertinya kami sudah tidak bisa mengendalikan nafsu. Kami saling menyusupkan tangan ke kemeja, untuk mengusap-usap puting. Serr.. kepalaku seakan mau lepas. Aku belum pernah merasakan sensasi seperti ini. Maklum di daerah aku selalu menahan diri, dan control sosial begitu cukup ketat. Sehingga aku cukup terkekang untuk masuk ke dunia lain.

Tidak puas dengan meremas-remas serta mengusap-usap puting, tangan kami bergerilya ke daerah lain. Ke bawah.. dan makin ke bawah. Setelah dia memegang kemaluanku, aku juga memegang kepunyaannya dari luar celananya. Tampak keras, dan tidak jelas bentuk penisnya, karena terlindung ketat dengan celana jeannya yang tebal.

Akhirnya kubuka kancing celananya. Dan kupelorotkan retsletingnya pelan-pelan. Terlihat celana dalamnya yang putih, semakin menambah rangsangan birahiku. Dan aku susupkan telapak tanganku ke dalam celana dalam yang putih itu.

“Hahh!” seakan tersetroom tanganku. Aku memegang benda panas di balik CD-nya. Aku pegang erat benda panas tersebut. Really?! Aku sangat penasaran, aku sibakkan CD-nya untuk melihat sejelas-jelasnya apa yang aku pegang.

Alamakk. Sulit dipercaya.. Sebatang tongkat tertanam kuat diantara selangkangannya. Aku masih belum percaya benar, aku ambil posisi berlutut di depannya sambil aku tarik-tarik batang kemaluan itu, siapa tahu cuma pasangan alias tidak asli.

Ternyata tidak, benda dengan diameter lebih dari 5 cm dan sepanjang teh botol lebih, masih tertanam kuat di rerimbunan rambut di antara selangkangannya. Antara melihat keajaiban dan nafsu yang sudah tidak karuan lagi aku perhatikan batang kemaluan itu dengan urat-urat sebesar kabel. Fantastik. Menjulang sedikit belok ke kiri. Dengan kepala besar, proporsional dengan batangnya. Benar-benar sempurna.

Akhirnya tanpa pernah belajar dari siapa pun, aku kulum batang kemaluan tersebut. Ini pertama kali aku mengulum batang kemaluan laki-laki. Wahh ternyata yang selama ini cukup menjijikkan; sungguh nikmat.

Pertama aku masukkan kepala penisnya, ke rongga mulut dengan pelan-pelan. Sungguh cukup lebar aku harus menganga. Aku isap-isap kepala itu. Aku lihat Budi merem-melek merasakan isapanku. Akhirnya aku masukkan dalam batang kemaluannya ke rongga mulutku. Hanya sebagian atau hanya setengah yang bisa tertelan mulutku.

Aku angguk-anggukkan kepalaku agar mulutku bisa bekerja naik turun. Wow, ternyata naluri seksku bisa berjalan tanpa pernah belajar. Aku jepit keras batangnya di antara bibirku, sambil terus bergerak naik turun. Sekali-kali aku lirik batang kemaluannya yang penuh urat yang besar-besar itu, membuatku tambah nafsu untuk mempermainkan mulutku. Dan Budi membalasnya dengan mengusap rambutku serta menciumi pipiku. Sapuan kumisnya di daerah pipiku, sungguh membuat aku terlena. Apalagi bibirnya yang sedikit merah medaratkan ciuman hangat di pipiku. Aku benar-benar melayang sampai langit yang ke tujuh.

Selang beberapa menit, sangat amat capai mulut ini. Betapa kerasnya mulut ini harus bekerja untuk menelan batang hangat panas, yang menyumbat habis mulutku. Tersedak aku dibuatnya. Ku keluarkan batang itu dari mulutku.

Tapi nafsu yang menggelora tidak pernah bisa aku padamkan. Aku ciumi seluruh permukaan batang itu dengan bibirku yang basah dan lidahku yang kumain-mainkan. Dari pangkal batang di rerimbunan rambut, menyusuri urat-urat besar di batangnya, perlahan dengan perasaan nikmat sampai ujung kepalanya. Di ujung kepala batangnya, aku berhenti, aku julurkan ujung lidahku untuk masuk ke lubang kepala batangnya. Huh, nikmat juga. Cukup lebar lubang kepala batangnya. Ujung lidahku cukup masuk ke lubang tersebut.

Cukup lama aku memain-mainkan ujung lidahku di lubang tersebut, sambil menetralisir mulutku yang tadi kecapaian. Setelah puas aku mempermainkan lubang batang penisnya. Aku lahap lagi batang kemaluannya ke dalam mulutku yang mulai kehausan lagi untuk menelan batang hangat panas itu.

Dengan pelicin ludahku yang sedikit mengalir di batang kemaluannya, aku susupkan dalam-dalam batang tersebut, maju mundur. Dan dengan semangat yang masih menggelora aku tekan lagi batang itu dengan kedua bibirku yang basah. Aku lirik wajah dan badan Budi yang menggelinjang karena isapanku yang mungkin cukup expert, walau I did the first time.

“Eh, baru pulang!” tiba-tiba Budi sedikit berteriak ke arah temannya yang tiba-tiba datang, tepat di depan kami, sambil melepaskan batangnya dari jepitan mulutku. Kemudian memasukkannya kembali ke dalam CD dan celananya.

Sungguh tidak enak, sangat tidak enak. Nafsuku yang sudah menggelora sampai ke planet Mars, tiba-tiba terbanting jatuh ke bumi di perkampungan Jakarta. Huhh! sangat mengganggu.

Akhirnya diperkenalkan temannya, namanya Adi. Setelah Adi membukakan pintu kamar, kami bertiga masuk. Kamar yang tidak terlalu besar, apalagi untuk bertiga. Hanya ada sebuah kasur besar di atas karpet.

Setelah kamar dikunci, Budi langsung menanggalkan seluruh pakaiannya, bajunya dan celananya, hanya tersisa CD-nya saja. Sangat seksi. Dan tidak lama kemudian dia langsung menanggalkan pakaianku satu per satu, aku menurut saja. Ia mendaratkan ciumannya ke pipiku dan bibirku. Wuu.. ronde kedua pikirku.

Tapi sekarang Budi yang aktif, setelah puas melumat bibirku, ia turun menciumi leherku yang cukup putih dan halus. Sementara Adi hanya melihat saja; tetapi tangannya gatal juga untuk mengelus-elus pipiku, dan batang kemaluanku. Aku tidak mempedulikan Adi. Fokusku tetap ke Budi. Setelah leherku, giliran putingku yang mendapatkan sapuan kumisnya dan hangat kenyutan bibirnya yang merah basah itu. Yes.. yes.., aku dibawa lagi ke awang-awang.

Lama dia mengenyot kedua putingku hingga membuatku mendesah, dan sekarang giliran bergerak perlahan menuju armpit-ku alias ketiakku. Huu.. Yess, aku mendesah semakin jelas, menandakan aliran darahku mulai tidak teratur lagi.

Setelah puas di daerah itu, giliran sekarang di tempat yang selalu aku jaga. Yah, di daerah terlarangku, alias kemaluanku. Mulutnya sangat hangat, terasa di kepala dan batang kemaluanku. Batangku dipilin-pilin. Oh, surga dunia kudapatkan.

Sambil merasakan pilinan mulut dan lidah Budi di kemaluanku, aku pegang tongkat estafet yang tadi sempat lepas dari mulutku di kursi depan kamar. Sekarang tanpa ampun lagi kubetot batang itu keras-keras, walaupun telapak tanganku tidak muat membetot batang itu seluruhnya, karena saking besarnya dia.

Aku kocok batangnya. Budi sudah melepaskan mulutnya dari batang kemaluanku. Sekarang giliran scrotumku yang mendapat giliran jilatan dan sapuan kumisnya. Sementara Adi hanya melihat saja kami main berdua.

Woww.., baru aku sadari bahwa scrotumku adalah daerah rawanku. Aku mendesah lebih keras, dan itu disadari Budi bahwa itu daerah rawanku. Ia tekan dengan bibir sambil mempermainkan lidahnya lebih cepat lagi. Aku semakin tidak karuan gerakan badanku dan pegangan pada tongkatnya kadang lepas, karena aku tidak bisa mengatur lagi irama kocokan untuk batangnya, cauze jilatan lidah dan bibir Budi di daerah scrotumku membuat aku seperti kuda binal.

Setelah beberapa menit Budi mengerjai scrotumku, aku tidak kuat lagi. Aku lepaskan batang kemaluan Budi, dan aku kocok sendiri batang kemaluanku di saat Budi aktif mempermainkan lidah dan bibirnya di daerah scrotumku.

“Oh, Bud.. Bud.. Crot-crot-crot..” semburan air mani hangat mengenai wajahnya, terutama pipinya.

Aku mengelinjang, mengelenjot seperti ayam yang baru disembelih. Oh.. aku kuras semua air maniku, aku tumpahkan ke wajah Budi. Aku tersenyum puas, Budi pun membalas senyumku, sangat manis. Tapi aku tidak membiarkan Budi berdiam diri saja setelah berhasil menguras habis air maniku. Dengan sisa tenagaku aku kulum lagi batang kemaluannya yang juga sudah kangen dengan lubang mulutku.

Aku gerakkan maju mundur, lebih cepat lagi. Aku tahu Budi juga sudah di ubun-ubun nafsunya. Warming up -ku di luar kamar tadi sudah cukup lama membuatnya terbang juga. Aku coba lebih keras dan cepat lagi kocokan batangnya dengan mulutku. Tidak mempan juga, padahal 15 menit sudah aku melakukannya itu sampai mulutku kejang kecapaian. Akhirnya aku lepaskan juga batang maut itu. Aku berpindah ke bagian scrotum, siapa tahu dia mempunyai daerah rawan yang sama denganku, sambil aku kocok batangnya dengan tanganku. Dia merasakan nikmatnya. Tetapi batang itu masih saja tegak berdiri, sampai tanganku sekarang yang giliran kecapaian 15 menit mengocok batangnya.

Akhirnya aku susuri seluruh badannya dengan bibir dan lidah yang aku main-mainkan. Ke daerah ketiak.. dan pindah ke putingnya. Aku isap kuat-kuat putingnya dengan bibirku yang basah, sambil tanganku tetap mengocok batangnya.

Saat aku isap putingnya. Tiba-tiba tangannya mengambil alih kendali tanganku yang mengocok batang besar kemaluannya. Dia mengocok sendiri batangnya, dengan cepat dan sangat cepat.

Dan croot! croot! croott! semburan keras air mani kental, mengenai wajahku dan rambutku, bahkan semburan yang tidak terhalang wajahku tersemprot mengenai atap kamar. Woow luar biasa. Dia berkelojotan juga sebagai gerak balik dari semburan air mani kental yang tersemprot sangat kuat.

Sementara Adi melihat kami berdua, sambil senyum-senyum nyengir saja. Dan kami membersihkan badan, terus mau tidur dengan Budi memelukku, dan di sebelahnya Adi. Adi akhirnya ngocok juga dengan berusaha sambil mengisap batang Budi yang ternyata masih berdiri tegak. Dan Adi mengeluarkan juga air maninya. Akhirnya kami bertiga tidur terlelap semua.

*****

Sejak saat itu, aku sering ketemuan dengan Budi. Dan aku lebih sering diajak nginap di rumah sebenarnya bukan di kos-kosan. Dia masih tinggal dengan kedua orang tuanya dan berjibun anggota keluarga lainnya, termasuk seluruh keponakan-keponakannya. Aku bisa akrab dan sangat akrab dengan seluruh anggota keluarganya, dari yang bayi 1 tahun sampai kedua orang tuanya. Mereka semua tidak tahu, hubungan macam apa yang terjadi antara aku dan Budi. Karena penampilan kami wajar-wajar saja. Tanpa kusadari aku telah menjadi boyfriend Budi. Pertama aku merasa aneh, masa’ lelaki punya pacar lelaki. Ah, mungkin aku kuno.

Dari waktu ke waktu, akhirnya aku tahu bahwa Budi pernah sangat dekat dengan kalangan celebritis top dan orang-orang terkenal lainnya, yang nota bene orang-orang “sakit”. Dan itu bukan isapan jempol, karena adik maupun orang tua Budi pernah cerita bahwa artis A, B, C sampai Z dulu sering kesini. Bahkan tetangganya di perkampungan yang cukup kumuh tersebut juga cerita. Artis A dulu sering kesini, atau artis B pernah kesini. Tetapi sekarang, orang yang ibarat menjadi piala bergilir itu ada di pelukanku.

Aku tidak peduli lembaran hidupnya sebelum ini. Walau sempat timbul dalam hatiku, kenapa ia memilih aku. Aku sangat berada jauh di bawah mereka-mereka yang sudah tenar dan kaya itu. Atau wajahku yang cukup sendu dan manis? He.. hehe.. tentu ge-er ku ini tidak beralasan. Atau mungkin karena aku selalu apa adanya, dan sedikit care walaupun itu dengan berjibun keponakan-keponakannya? Mungkin iya kali’, aku berusaha untuk go down to the earth. Ah, tidak baik memuji diri sendiri.

Tapi sayang, kebahagiaanku tidak begitu lama. Setelah aku tahu, bahwa Adi yang Budi bilang temannya itu ternyata pacarnya yang terakhir sebelum kenal aku. Shock, aku dibuatnya. Walaupun Budi selalu bilang bahwa ia telah putus dengan Adi, dan selalu bilang saya punya sifat yang sangat beda dengan Adi maupun pacar-pacar sebelumnya. Tidak cukup kata-kata itu menyembuhkan rasa sakit ini.

Aku juga tahu Budi sangat serius meninggalkan Adi. Tapi Adi tidak mau ditinggalkan begitu saja. Walaupun selama ini anggota keluarga Budi tidak ada yang menaruh sympati dengan Adi, dia tetap sering datang dan datang ke rumah Budi. Dan itu cukup menyesakkan hatiku. Akhirnya aku sering mengalah, untuk meninggalkan Budi. Tetapi semakin aku meninggalkannya, semakin dia berusaha untuk mencari dan mendapatkanku. Jakarta ini sudah tidak ada tempat lagi untuk bersembunyi dari Budi. Bahkan di daerah asalku pun tidak luput dari jangkauannya.

Akhirnya kujalani hidup ini dengan kebahagiaan dan kengiluan luar biasa bercampur jadi satu. Di saat Budi dekat dengan Adi, aku cari kompensasi baru untuk mengobati luka bathin, dengan membuka hati kepada lelaki muda yang mungkin bisa mengisi hatiku. Kebetulan aku sekarang prefer dengan “brondong” alias cowok-cowok muda belia.

Sampai sekarang belum ada brondong yang bisa lama mengisi hatiku. Semua sudah terkontaminasi dengan kilau Jakarta. Disamping seleraku cukup tinggi (alat vital sudah bukan jadi kriteriaku lagi), yang membuat cukup sulit brondong menyelinap di hatiku.

Setelah ber-tahun-tahun aku merasakan pahit getirnya kota Jakarta, dan madu – racun berhubungan dengan Budi. Akhirnya aku tinggalkan semua itu, jauhh.. Mungkin dengan melihat dari jauh, akan ketahuan seperti apa hidupku yang selayaknya. Walaupun aku disini, merasakan ada yang hilang. Tapi biarlah.. semua aku hadapi hidup di negeri orang ini, sendirian.


E N D


Nb : Hey semuanya salam kenal... saya adalah penggemar cerita serial gay di indonesia. jika kalian pernah mengikuti serial seperti Cowok Rasa Apel yang sekarang sudah sampai ke sesi ke tiga... saya ingin menyarankan sebuah serial berjudul "pelepasan" yang mungkin lebih terkesan dewasa dan apa adanya, saya memang baru membaca sampai ke episode ke 9 (atau remah ke 9- jika mengambil istilah dari blog tersebut) tapi menurut saya kisah yang ditulis di sana cukup mengesankan dan menjanjikan untuk diikuti kelanjutannya.
salam. lelaki Jogja. http://triztanfamous.blogspot.co.id/2016/05/pelepasan-bab-1.html     

Tuesday, July 12, 2016

Ujang 03




Sambungan dari bagian 02
Eh, ini anak belum tahu rasanya, sekali tahu rasanya jagi ketagihan nih, kataku dalam hati. Karena Ujang keluar duluan maka aku menindih tubuhnya sambil kuselipkan batang kemaluanku diantar pahanya dan kuminta dia untuk menjepitnya dengan kuat sampai akhirnya aku mencapai puncaknya dan kukeluarkan spermaku di atas perutnya sehingga perut Ujang penuh dengan leleran spermaku yang kemudian kuratakan ke arah dadanya sekali dan kulihat batang kemaluan Ujang sudah menegang lagi aku segera mengambil inisiatif untuk menghisapnya lagi dan kulumuri batang kemaluannya dengan air ludahku sampai cukup basah semuanya kemudian aku mengangkanginya dan jongkok di depannya serta mengarahkan batang kemaluannya ke arah lubang anusku.
Ketika batang kemaluan Ujang yang besar itu mulai memasuki lubangku, kurasakan sakit sekali karena batang kemaluan Ujang memang sangat besar dan panjang, senti demi senti kumasukkan perlahan-lahan sampai akhirnya amblas semuanya kutahan untuk beberapa saat sampai rasa sakit itu berangsur-angsur hilang dan kurasakan ada sesuatu benda kenyal yang mengganjal di dalam lubangku, aku naik-turunkan badanku dan kudengar rintihan dan lenguhan Ujang makin lama makin keras dan memburu dan kurasakan ada cairan hangat yang menyembur di dalam lubang anusku. Aku segera berlari ke kamar mandi yang ada di kamar itu dan kubersihkan diriku, kuguyur tubuhku dengan air hangat yang memancar dari shower, kubiarkan pintu kamar mandi terbuka sehingga aku bisa melihat Ujang masih menikmati sisa-sia kenikmatannya. Ketika dia menoleh ke arahku, kulambaikan tanganku untuk untuk memanggilnya agar bersama-sama mandi di bawah guyuran air shower ini.
Rupanya dia mengerti keinginanku, dia segera bangun dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi dan ikut mengguyurkan dirinya di bawah shower, sambil saling menyabuni badan kami masing-masing terlebih-lebih menyabuni batang kemaluan lawan mainnya sampai tegang kembali. Akan tetapi tidak sampai terjadi ML di dalam kamar mandi itu, karena hari sudah malam, maka kami segera mengeringkan badan kami. Dan kulihat Ujang ingin segera berpakaian dan kembali ke kamarnya, akan tetapi aku mencegahnya, agar malam ini dia tidur di kamarku saja dan tidak usah berpakaian. Akhirnya kami berdua dalam keadaan telanjang bulat langsung nyungsep di bawah selimut yang tebal sambil berpelukan untuk saling memberi kehangatan di malam yang dingin itu dengan perasaan puas karena bisa saling memberi kenikmatan.
Ketika menjelang pagi kurasakan ada sesuatu yang hangat, kenyal dan bergerak-gerak menyentuh perutku, aku segera bangun dan kulihat Ujang masih terlelap di sampingku sambil tangannya melingkar di atas perutku dan kudengar dengkuran kecil keluar dari mulutnya, dan ternyata benda hangat itu adalah batang kemaluan Ujang yang sudah menegang kembali menjelang pagi ini. Segera kuraih batang kemaluan Ujang yang sudah tegang itu kukocok perlahan-lahan dan kulihat dia menikmati kocokan tanganku itu, dengan menggeliatkan tubuhnya sehingga tubuhnya terlentang sehingga batang kemaluannya yang tegang itu seperti tugu Monas yang sedang menjulang tinggi, segera kuhisap batang kemaluannya, mungkin karena keenakan sehingga dia akhirnya Ujang terbangun.
“Eh, Mas Adi, aduh enak lho Mas Adi, kalo digitukan,” kata Ujang polos.
“Kamu mau coba nggak ngisep batang kemaluanku.”
“Aduh, aku nggak bisa nih Mas Adi.”
“Ayo kamu coba dulu.”
Akhirnya aku mengambil posisi 69, sehingga batang kemaluan Ujang tepat didepan mulutku dan batang kemaluanku pun tepat di depan mulut Ujang, akan tetapi dia masih ragu-ragu, mula-mula batang kemaluanku dikocok-kocoknya dengan perlahan-lahan, kemudian diciumnya dan akhirnya kurasakan sesuatu yang hangat dan basah menyentuh batang kemaluanku, ternyata Ujang berusaha untuk menjilati batang kemaluanku. Kurasakan beberapa saat kemudian kurasakan jilatan itu berubah menjadi hisapan pada batang kemaluanku, sedangkan mulutku tetap menghisap batang kemaluannya tangan mulai bergerilya untuk merusaha mencari lubang anusnya yang masih terasa sempit sekali. Aku lumuri jariku dengan air liurku kemudian kumasukkan dalam anusnya setelah agak lancar maka mulai dua buah jariku masuk ke dalam anusnya sampai akhirnya tiga jariku bisa masuk ke dalam anusnya. Kucabut batang kemaluannya dari mulutku dan juga kucabut batang kemaluanku dari mulutnya, segera kutelentangkan dia, kuangkat kedua belah kakinya sehingga lubang anusnya mendongak ke atas.
“Aku ingin memasuki lubang kamu, Jang.”
“Mungkin untuk pertama kali akan terasa sakit, tapi kamu tahan yaa Jang,” pintaku.
Dia tidak bereaksi hanya mengangguk perlahan, segera kupegang batang kemaluanku dan kumasukkan ke dalam lubangnya yang masih terasa sempit sekali, sehingga aku harus berulang-ulang mencobanya, sampai pada usahaku yang ketiga aku baru berhasil memasukkan batang kemaluanku ke dalam lubangnya dan kudengar erangan Ujang karena kesakitan dan kulihat ada aliran air bening yang keluar dari kedua belah matanya. Sambil mencengkeram kasur dia menahan masuknya batang kemaluanku senti demi senti. Setelah semuanya bisa masuk sampai pangkalnya aku segera berdiam diri untuk memberikan kesempatan kepada Ujang untuk beradaptasi dengan keadaan batang kemaluanku berada di dalam lubangnya itu. Setelah beberapa saat aku mulai menggenjotkan pinggulku maju-mundur di atas pantat Ujang, sampai akhirnya aku tak tahan lagi merasakan keenakan karena lubang anus Ujang yang masih perawan ini. Tidak berapa lama kemudian akhirnya aku muncrat juga di dalam lubang anus Ujang.
“Aaahhh, aaaduuuhh Jaaangg.”
“Eeennaaakk Jaang pantatmu, Jang.”
“Perawan lagi Jaaang, beruntung aku dapet kamu Jaaang…”
Sampai akhirnya aku menggelosor di atas dada Ujang, sedangkan batang kemaluan Ujang masih tegak berdiri dan dia juga ingin minta jatah juga untuk segera dikeluarkan isinya, maka segera aku telentang sambil mengangkat kakiku dan kusuruh Ujang untuk memasuki lubangku yang tentunya sudah tidak perawan lagi. Ujang pun menuruti kemauanku dengan segera, dia menancapkan batang kemaluannya yang besar dan panjang itu ke dalam lubang anusku dan kemudian menggenjotnya dan tak berapa lama kemudian kudengar lenguhan yang keras dan… “Crooot… croot, crroot…” kurasakan denyutan dan semburan spermanya di dalam lubangku.
Pagi itu, kami mandi berdua di dalam bathup sambil berendam air hangat, saling menyabuni tubuh kami masing-masing, membersihkan batang kemaluan lawan mainnya, berpelukan di dalam bathup sambil merasakan air hangat. Ketika kami selesai mandi hari sudah siang karena matahari sudah tinggi dan jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.00, Ujang jadi kelabakan, karena dia belum membereskan dan membersihkan rumah yang menjadi tanggung jawab dan kewajibannya, biasanya dia jam 05.00 pagi sudah mulai bersih-bersih rumah, menyapu kebun, menyiapkan sarapan dan sebagainya. Akan tetapi hari itu aku tidak menuntut semua kewajiban dan tanggung jawab Ujang terpenuhi semuanya karena semua ini memang kesalahanku juga.
“Jang, nyapu kebunnya besok aja, khan Oom baru pulang dua hari lagi,” kataku.
“Terus beresin rumah entar siang aja, mendingan sekarang kita buat sarapan bareng-bareng saja yaa…” kataku.
“Baiklah, Mas Adi.”
Kami berdua kemudian menuju ke dapur, karena tidak ada yang siap untuk dimakan pagi itu akhirnya, pagi itu kami bedua sarapan dengan mie instan dan telur rebus, sambil minum susu coklat panas.
Selama masih ada waktu berlibur di rumah oomku, maka aku tidak menyia-nyiakan waktu yang ada untuk setiap malam selalu ML dengan Ujang, sampai pada hari yang ketiga tiba, dimana oomku sudah kembali dari Jakarta dan tidur di rumahnya, malam itu aku begitu merasakan kesepian yang amat sangat, karena tidak mungkin aku harus tidur dengan Ujang lagi, aku jadi gelisah dan tidak bisa tidur walaupun sudah tengah malam, sampai akhirnya aku keluar kamar dan kubuka pintu yang menuju ke ruang belakang kuhampiri kamar Ujang, pintu kamarnya terkunci dari dalam, kuketuk beberapa kali tidak ada balasan akhirnya kuputuskan untuk kembali kekamarku kembali. Paginya ketika subuh, aku segera keluar dari kamarku menuju ke ruang belakang, karena aku tahu bahwa Ujang pasti sudah bangun dari tidurnya dan sudah mulai melaksanakan semua tugas rutinnya. Ternyata ketika aku berjalan ke belakang kudengar suara di dapur, ketika kulongok ternyata Ujang sedang mempersiapkan untuk memasak air dan menanak nasi, segera kuhampiri dia dan kupeluk dari belakang, Ujang agak terkejut tapi akhirnya bisa menguasai diri.
“Jang, aku semalam nggak bisa tidur. Aku selalu inget kamu, aku tadi malem mau ke kamarmu tapi terkunci dari dalam, makanya nanti malam kamar kamu jangan dikunci yaa, biar kalau aku kangen sama kamu, bisa masuk kamar kamu, oke?”
“Baik, Mas Adi,” jawab Ujang. Hari-hariku berjalan penuh dengan kejenuhan karena tidak bisa selalu bersama dengan Ujang, aku merasa kesal, aku merasa bosan, walaupun malam hari bisa bertemu dengan Ujang dan ML, akan tetapi rasanya tergesa-gesa dan seperti maling saja.
Setelah genap seminggu aku di rumah oomku, maka pagi itu aku minta ijin kepada oomku untuk pulang balik ke Surabaya, dan akhirnya aku diantar oleh oomku ke stasiun pada saat aku berada dalam mobil oomku, aku sempat melihat Ujang melambaikan tangan untukku dengan pandangan mata yang penuh dengan sejuta misteri yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Apakah aku jatuh cinta sama Ujang, atau sebaliknya Ujang yang jatuh cinta sama aku. Aku sendiri tidak bisa menjawabnya karena batinku selalu bergejolak. Di dalam mobil aku lebih banyak berdiam diri, dan kujawab pertanyaan dari oomku, sebatas yang diperlukan saja, sampai akhirnya mobil berhenti di depan stasiun kereta api yang akan membawaku kembali ke Surabaya.
Di dalam perjalanan dengan kereta api itu, alam pikiranku berjalan kembali bagai kilas balik, seperti film yang diputar ulang tentang apa yang telah terjadi antara aku dan Ujang. Aku ingin merasakan sisa-sisa kenikmatan, sisa-sisa kehangatan pelukannya, tusukan batang kemaluannya yang sepanjang 21 cm itu. Dan akankah kita akan bertemu kembali Ujangku sayang. Aku berjanji liburan semester depan aku akan mengunjungimu lagi Ujangku, asalkan kamu masih bekerja di rumah oomku. Salam manis selalu Ujangku, dan kututup adegan terakhir dalam lamunanku dengan senyumku yang kupaksakan. I always miss you, Ujang.
TAMAT


Nb : Hey semuanya salam kenal... saya adalah penggemar cerita serial gay di indonesia. jika kalian pernah mengikuti serial seperti Cowok Rasa Apel yang sekarang sudah sampai ke sesi ke tiga... saya ingin menyarankan sebuah serial berjudul "pelepasan" yang mungkin lebih terkesan dewasa dan apa adanya, saya memang baru membaca sampai ke episode ke 9 (atau remah ke 9- jika mengambil istilah dari blog tersebut) tapi menurut saya kisah yang ditulis di sana cukup mengesankan dan menjanjikan untuk diikuti kelanjutannya.
salam. lelaki Jogja. http://triztanfamous.blogspot.co.id/2016/05/pelepasan-bab-1.html     

Monday, July 11, 2016

Ujang 02




Sambungan dari bagian 01
Setelah aku menikmati makan siangku seorang diri, sampai aku merasa kenyang sekali, aku menuju ke ruang tamu, duduk di sofa panjang dan berusaha untuk mencari bahan bacaan untuk menghabiskan waktu, akan tetapi aku tidak menemukannya. Dengan demikian timbul keisenganku untuk melihat-lihat ruang-demi ruang yang ada di rumah ini. Aku mulai dari ruang yang berada paling depan sendiri, setelah pintu kubuka dan ternyata tidak terkunci, kulonggokan kepalaku ke dalamnya, ternyata ini adalah merupakan kamar tidur pribadi oomku, kamarnya lebih luas dan perabotannya lebih mewah dibandingkan dengan kamar yang aku tempati, kemudian ruang yang kedua adalah kamar yang aku tempati, sekarang aku menuju ke ruang ketiga yang lebih kecil lagi. Di dalamnya ada sebuah tempat tidur dengan ukuran satu orang saja, sebuah meja dan sebuah lemari kecil. Semuanya dalam keadaan rapi, bersih dan kosong alias tidak ada yang menempatinya, kemudian aku melangkahkan kakiku menuju ruang selanjutnya setelah keluar dari rumah induk, ada satu ruangan yang terkunci dengan gembok di depannya dan aku memastikan bahwa itu adalah gudang barang-barang yang tidak terpakai, kemudian sebelahnya ada dapur, kamar mandi kecil dan sebelahnya ada wc kecil juga, kemudian ada jalan berbelok menuju satu lorong kecil yang tidak panjang dan di ujung lorong itu ada sebuah pintu dalam keadaan terbuka sedikit.
Aku menghampiri pintu itu dengan perlahan-lahan dan kulihat ke dalam, dan… “Oh, My God!” ternyata ruangan ini adalah kamar Ujang, cukup sempit sekitar 2,5 X 3 meter saja, yang ada hanya sebuah tempat tidur kayu yang sederhana, sebuah meja kecil dan lemari kecil dan yang paling menarik perhatianku adalah di atas tempat tidur tergeletak tubuh kekar, padat berisi dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana dalam, dengan nafasnya yang teratur turun-naik. Ternyata Ujang kelelahan sehabis membereskan kebun dan memasak makan siang untukku, tapi ada satu bagian yang paling menarik perhatianku, yaitu jendolan yang cukup besar di selakangannya yang kadang-kadang bergerak seolah mengangguk-angguk. Tanganku sudah gatal sekali untuk menyentuh jendolan itu. Timbul peperangan dalam batinku untuk menyentuh jendolan itu saat Ujang sedang terlelap dalam tidurnya atau menunggu saat yang indah sampai nanti malam. Kalau nanti malam Ujang tidak mau dipegang bagaimana? Kan hilang kesempatan untuk merasakan jedolan si Ujang, kata hatiku yang lain.
Akhirnya, aku membatalkan untuk menyentuh jendolan Ujang, kututup kembali pintu kamarnya dan aku balik menuju kamarku sambil pikiranku terus tertuju pada jendolan itu, aku merusaha memejamkan mataku, tapi yang timbul justru bayangan jendolan milik Ujang yang menari-nari di pelupuk mataku, sampai akhirnya aku terlelap dengan sendirinya. Aku terbangun, kulihat jam yang ada di dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan hampir pukul 18.00, cukup lama juga aku tertidur siang ini. Segera aku menuju ke kamar mandi dan kubersihkan diriku akan tetapi kali ini aku tidak lama-lama berendam dalam bathup, setelah selai semuanya aku segera keluar kamar dan kudengar suara TV di ruang tengah, ternyata si Ujang sedang nonton TV sambil duduk di lantai kayu.
“Hallo Jang.””Eh, Mas Adi, baru bangun tidur yaa?”
“Iya nih, capek sekali.”
“Mas Adi tidurnya nyenyak sekali sampai menjelang magrib baru bangun.”
“Hmm.”
“Ayo makan malamnya dimakan, Mas Adi!” lanjut Ujang.
“Ok, tapi kamu temani aku makan yaa,” kataku.
“Nggak, mau Mas, Ujang sungkan sama Mas Adi.”
“Aku nggak apa-apa kok, kamu jangan anggap aku juragan kamu, tapi anggap aku sebagai teman atau kakak kamu, gimana? oke?”
“Baiklah, Mas.”
Dengan ragu-ragu Ujang menyeret kursi di meja makan itu sampai… “Ayolah, Jang nggak usah takut dan nggak usah sungkan segala.” Akhirnya malam itu Ujang mau makan semeja denganku walaupun masih ada perasaan sungkan, hal ini kurasakan ketika makan Ujang selalu tertunduk dan tidak banyak berbicara. Aku masih bisa memaklumi karena oomku tidak pernah memperlakukan Ujang seperti ini.
Setelah makan malam selesai, Ujang segera membereskan semua piring kotor untuk dibawa ke dapur dan sekalian mencucinya. Setelah semuanya dibereskan, kemudian Ujang mengunci pintu belakang yang menuju halamam belakang, menutup tirai-tirai yang ada disetiap jendela kemudian dia mengambil tempat lagi di depan TV dengan duduk di lantai.
“Mas Adi nggak pengin jalan-jalan lihat pemandangan Puncak di waktu malam,” tanya Ujang.
“Nggak ahh, lagi males, dingin lagi karena masih belum beradaptasi, dan lagi aku merasakan pegal-pegal di seluruh tubuhku,” jelasku.
“Mas Adi, mau kalau Ujang pijitin,” katanya lagi.
Tanpa dikomado untuk yang kedua kalinya segera kuiyakan saja tawaran Ujang ini.
“Emangnya kamu pinter mijit,” basa-basiku.
“Yaa, hanya sekedar mijit aja, tapi nggak seahli tukang pijit,” sambungnya lagi.
“Okelah kalau gitu, kamu kunci semua pintu dan aku tunggu di dalam kamar yaa,” pintaku.
Ujang segera bangkit dari duduknya, menuju pintu depan dan menguncinya serta mematikan lampu yang ada di ruang tamu, kemudian kudengar Ujang mematikan TV yang ada di ruang tengah. Pada saat yang bersamaan aku segera melepaskan semua pakaianku dan yang tinggal hanya CD-ku yang berwarna kuning gading. Sambil telungkup aku menunggu Ujang masuk ke kamarku, hatiku berdebar-debar sehingga memicu jantungku berdetak lebih cepat lagi yang membuat badanku terasa panas. Kudengar langkah kaki Ujang menuju ke kamarku dan membuka pintu kamarku.
“Permisi yaa Mas Adi.”Sambil kurasakan tangannya menyentuh punggungku.
“Eh, badan Mas Adi kok panas, Mas Adi sakit yaa,” katanya lagi.
“Ah nggak kok, mungkin perasaanmu saja,” balasku.
Kemudian, kurasakan tangannya mulia menari-nari di punggungku, leherku, tangan dan jariku, kemudian mulai memijit kakiku dari ujung jari menuju ke atas dan terus ke pahaku, karena aku diperlakukan seperti itu yang membuat batang kemaluanku berdiri tegang penuh, kuharapkan Ujang tidak mengetahuinya. Kemudian Ujang memijit pinggulku yang makin membuat aku blingsatan karena rabaan tangannya dibokongku yang membuat batang kemaluanku makin berdenyut-denyut. Untung saja lampu dalam kamarku hanya diterangi lampu lima watt saja sehingga suasanya hanya remang-remang saja. Setelah Ujang selesai dengan bagian belakang tubuhku, maka dia memintaku untuk telentang dan aduh gimana nih, padahal kepala batang kemaluanku udah nyembul keluar dari CD-ku yang mini ini, tapi dengan laga cuek akhirnya aku balikkan juga badanku dan tepat di hadapan mata Ujang batang kemaluanku yang berdenyut-denyut itu membuat pemandangan tersendiri bagi Ujang.
Aku ingin tahu apa yang akan diperbuat Ujang terhadap batang kemaluanku yang sudah tegang penuh itu. Ternyata Ujang bisa cuek juga, pikirku dalam hati, karena dia dengan santainya tetap melanjutkan untuk memijat kakiku bagian depan dari ujung kaki sampai ke paha yang makin membuatku tambah tegang penuh, karena aku tak kuat disiksa seperti ini akhirnya kupegang tangan Ujang dan kubimbing ke arah batang kemaluanku yang tegang penuh itu sambil kataku, “Jang, sekalian yang ini kamu pijitin sekali biar enak,” kataku.
“Ih, Mas Adi, bisa-bisa aja, nggak mau aaaah,” tolak Ujang.
“Ayo dong, Jang!”
Akhirnya dengan malu-malu dipegangnya juga batang kemaluanku, karena aku merasa tidak bebas karena adanya CD-ku, maka segera kupelorotkan CD-ku sehingga kini aku jadi telanjang bulat di hadapan Ujang yang masih berpakaian lengkap itu. Kurasakan hangatanya kocokan tangan Ujang di batang kemaluanku yang 17 cm itu dibuat mainan oleh Ujang, sampai aku menggelinjang-gelinjang.
“Jang…”
“Ada apa Mas?”
“Aku khan udah telanjang, biar adil kamu juga harus telanjang juga,” pintaku.
“Ih, Ujang malu Mas” katanya.”Nggak apa-apa, ayo cepet buka bajumu semuanya.”
Dengan ragu-ragu Ujang mulai membuka kancing bajunya satu persatu dan aku segera mengarahkan tanganku ke arah jendolannya yang siang tadi sudah menggoda aku dan kurasakan batang kemaluannya juga tegang, besar, kenyal dan panjang. Segera kubantu untuk memelorot celana pendek gombornya itu, kemudian kupelorot CD-nya dan kulihat sebuah batang kemaluan yang berdiri tegak mengacung panjang sampai menyentuh pusarnya, kurang lebih hampir 21 cm dan berwarna hitam dengan kepala kemerah-merahan, lebih besar dan lebih panjang daripada batang kemaluanku. Setelah beberapa saat aku mengagumi batang kemaluan Ujang, segera kuraih dan kukocok dan ternyata dia diam saja, kutelentangkan Ujang di atas tempat tidur dan mulai aku mencumbuinya mulai dari cuping telinganya, lehernya kemudian turun lagi ke arah putingnya dan kudengar rintihan-rintihan dan desisan yang keluar dari mulut Ujang.
Kemudian kuarahkan kecupanku ke arah pusarnya dimana kepala batang kemaluannya tepat berada kukecup kepala batang kemaluannya yang meradang dan mekar membesar itu, kujilati daerah V-nya dan kudengarlenguhan Ujang makin keras kemudian kepala batang kemaluannya kumasukkan dalam mulutku dan mulai kuhisap dan kumasuk-keluarkan dalam mulutku dan kurasakan ketegangan pada batang kemaluannya makin memuncak dan kurasakan semburan cairan hangat mengenai langit-langit mulutku dan kurasakan cairan asin, manis dan amis memenuhi rongga mulutku dan kutelan habis semuanya.
Lalu kudengar, “Aaahhh, aaaduuuhhh Mas Adi, aaakuuu diapain saja nih, koook eeenaaak beeeneeerr.”
“Ooohhh, aaauuucchh…”
“Aaayooo, Mass, Ujang mau lagi, Masss…”
Bersambung ke bagian 03


Nb : Hey semuanya salam kenal... saya adalah penggemar cerita serial gay di indonesia. jika kalian pernah mengikuti serial seperti Cowok Rasa Apel yang sekarang sudah sampai ke sesi ke tiga... saya ingin menyarankan sebuah serial berjudul "pelepasan" yang mungkin lebih terkesan dewasa dan apa adanya, saya memang baru membaca sampai ke episode ke 9 (atau remah ke 9- jika mengambil istilah dari blog tersebut) tapi menurut saya kisah yang ditulis di sana cukup mengesankan dan menjanjikan untuk diikuti kelanjutannya.
salam. lelaki Jogja. http://triztanfamous.blogspot.co.id/2016/05/pelepasan-bab-1.html     

Sunday, July 10, 2016

Ujang 01




Dalam perjalanan dengan kereta api Turangga yang membawaku dari Surabaya menuju ke Bandung, dalam benakku berkecamuk dengan bermacam-macam pikiran yang belum tentu terjadi dan menjadi kenyataan, karena baru pertama kalinya aku pergi jauh seorang diri, tanpa seorang teman pun. Dan baru pertamakalinya aku akan mengunjungi rumah oomku (adik dari ibuku) setelah sekian lama aku tidak pernah berjumpa dengan beliau. Dalam masa liburan seperti saat ini apa yang harus kulakukan selain jalan-jalan untuk menyegarkan kembali pikiranku yang begitu suntuk ini. Setelah semalam aku tersiksa dengan pikiranku sendiri, akhirnya pagi itu kereta sudah sampai di stasiun Bandung dan aku harus meneruskan perjalananku dengan angkutan umum menuju ke puncak, karena aku memang tidak memberitahu oomku kalau aku akan berlibur di rumahnya, karena aku memang tidak ingin merepotkannya sehingga tidak ada jemputan untukku, disamping itu aku ingin memberi kejutan buat oomku.
Setelah melalu perjalanan hampir dua jam karena kendaraan yang aku tumpangi sering berhenti untuk mencari penumpang, maka akhirnya aku sampai juga ke villa oomku setelah hari menjelang siang. Aku masuki halaman villa oomku dengan harap-harap cemas, bagaimana seandainya oomku tidak ada di villanya melainkan sedang mengurus bisnisnya di Jakarta, dengan langkah pasti kutapaki jalan dengan batu kali di halaman rumahnya. Kuketuk pintunya dan tak lama kudengar langkah kaki mendekati pintu rumah kayu jati itu.
“Selamat siang, Oom,” sapaku.
“Eh, kamu Adi yaa?”
“Bener, Oom.”
“Udah gede yaa kamu, ganteng lagi,” kata oomku.
“Hmm,” gumanku sambil kepalaku membesar karena dapat pujian dari oomku.
“Ayo masuk!”
“Terima kasih, Oom.”
“Kamu dateng ke sini sama siapa?”
“Sendirian aja Oom.”
“Untung saja Oom belum berangkat ke Jakarta, karena nanti siang ada meeting dengan staff-nya Oom.”
Hampir saja kekwatiranku menjadi kenyataan, apa jadinya kalau oomku sudah berangkat ke Jakarta, aku kan bisa jadi orang gelandangan di sini.
“Nggak apa-apa khan kamu sendirian di sini?” kata oomku lagi.
“Biar nanti kamu ditemani si Ujang, pembantu sekalian merangkap tukang kebun yang mengurus villa ini, akan oom panggil dulu yaa si Ujang,” jelas oomku.
“Baiklah, Oom, tapi Adi nggak merepotkan Oom khan?” jawabku.
“Oh, tidak, santai saja, anggap villa ini seperti rumah kamu sendiri, kalau kamu perlu sesuatu tinggal suruh si Ujang untuk membantu kamu, oke?”
“Bentar yaa!”
“Jaaang, Ujaaang…” teriak oomku.
Tak lama kemudian datang seorang pemuda dengan postur tubuh kekar, padat berisi dengan kulit hitam seperti binaragawan yang terbentuk oleh alam dan wajahnya ganteng juga, taksirku dalam hati.
“Jang, ini Adi keponakan saya yang baru saja datang dari Surabaya, karena saya akan ke Jakarta selama beberapa hari, maka kamu temani Adi dan kamu bantu untuk memenuhi semua keperluan Adi yaa!” jelas oomku kepadanya.
“Baik, Gan,” jawab Ujang.
“Oke, Adi oom berangkat dulu yaa dan semoga kamu kerasan di sini yaa.”
“Baik Oom, selamat jalan dan hati-hati di jalan yaa!”
Lalu kamu bertiga keluar ke halaman untuk mengantar oomku menuju ke mobilnya yang sudah disiapkan di depan pintu. Ketika mobil mulai bergerak menuju ke arah jalan raya, kulambaikan tanganku untuk ooomku dan oomku juga membalasnya dari dalam mobilnya, setelah mobil belok ke arah jalan menuju ke Jakarta hingga tidak tampak lagi dari pandangan mataku, maka aku segera masuk kembali ke ruang tamu diiringi oleh Ujang yang juga berjalan di belakangku. Setelah aku duduk di sofa panjang, Ujang berjalan menghampiriku dengan perasaan tidak menentu, aku berusaha untuk menahannya untuk tidak mulainya secepat itu. Sehingga kudengar suara Ujang yang mengejutkan aku.
“Den, mau minum apa?” katanya.
“Apa kamu bilang, Den?”
“Ih, jangan panggil aku Aden, risih nih di telinga,” kataku.
“Habis mesti panggil apa, Den?” lanjut Ujang.
“Nah, itu lagi panggil Den lagi.”
“Jang, umur kamu sekarang berapa sih,” tanyaku.
“Delapan belas, Den,” jawabnya.
“Oke, karena kamu lebih muda dua tahun dariku, gimana kalau kamu panggil aku Mas Adi saja!”
“Baik, Den eh Mas Adi,” jawab Ujang.
“Oke Jang,aku mau minum minuman yang hangat!”
“Baik, Mas…” jawab Ujang dengan ragu-ragu karena belum biasa dengan panggilan itu.
Tak lama kemudian Ujang sudah muncul dengan segelas susu coklat yang membangkitkan selera dengan aroma coklatnya yang sedap itu. Setelah Ujang menaruhnya di atas meja yang ada di depanku, maka dia segera mohon pamit untuk membersihkan dan menyiapkan kamarku yang telah ditunjukkan oleh oomku tadi sebelum beliau berangkat ke Jakarta. Kuikuti langkah kaki Ujang yang mempesona diriku itu sampai hilang di balik pintu. Aku merenung, membayangkan tubuh Ujang bila tanpa selembar pakaian pun, keras dan padatnya tubuhnya dan terlebih lagi anunya seberapa yaa? Dalam anganku yang ngelantur itu akhirnya aku tersenyum sendiri dan tanpa kusadari Ujang telah selesai membereskan kamar yang akan kutempati.
“Ih, Mas Adi ngelamun yaa sambil senyum-senyum sendiri,” goda Ujang mulai berani.
“Ah, nggak kok,” tangkisku.
“Iya tuh, buktinya Ujang sudah lama berdiri di sini, Mas Adi nggak tahu tapi terus senyum sendiri,” lanjutnya lagi.
“Ya udah aah.”
“Eeng, anu Mas, kamarnya udah siap, silakan masuk dan beristirahat, pasti Mas Adi lelah yaa sehabis melakukan perjalanan semalam.”
Dengan langkah gontai aku berjalan di belakang Ujang sambil menenteng tasku yang lumayan berat. Ketika aku masuk ke kamar yang telah disiapkan untukku, ternyata ada sebuah tempat tidur dari kayu jati dengan ukuran king size, dan perabotannya semua dari kayu jati, lumayan luas juga kamar tidur ini dengan ukuran 4 X 4 meter, dengan lantai dari kayu juga dan dilapisi dengan permadani dari Persia untuk menambah kehangatan suasana.
Lalu kataku pada Ujang, “Jang, entar malem kamu temani aku tidur di sini, yaa!”
“Aah nggak, aaah.”
“Napa?”
“Ujang takut dimarahi sama Agan,” katanya.
“Bukannya, Aganmu lagi ke Jakarta, dan lagi aku kan sendirian di sini, aku butuh teman untuk ngobrol sebelum tidur.”
“Baik, Mas, sampai nanti malem yaa, saya mau membersihkan kebun belakang, silahkan Mas Adi bersitirahat atau mungkin mau jalan-jalan ke kebun belakang,” kata Ujang.
“Oke, Jang, sampai nanti malam yaa.”
Setelah sejenak aku menikmati suasana di dalam kamar itu, maka kuputuskan untuk membersihkan diriku agar rasa penat dan lesu hilang dari tubuhku, kulepaskan satu persatu pakaianku dan aku berdiri tepat di depan kaca dengan ukuran dua meter lebih yang ada di lemari pakaian itu. Aku pandangi bayangan tubuhku yang polos itu di kaca, ternyata aku juga tidak terlalu kerempeng bila dibandingkan dengan Ujang, dan kulitku lebih putih dibandingkan dengan Ujang, dan batang kemaluanku yang mulai menegang sepanjang 17 cm dengan kepala yang kemerahan apa sama ya dengan panjangnya batang kemaluan si Ujang sambil kukocok terus batang kemaluanku sambil membayangkan menggeluti tubuh hitam si Ujang sampai mencapai puncaknya, dan… “Ooohhh, aaauccchh eeenaakkk Jaaang… Aaayoo laggiii Jaannng…” racauku sendirian dalam mencapai nikmat dari onaniku di depan kaca, setelah rasa nikmat itu berangsur-angsur hilang segera aku masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Kuputar keran air hangat untuk mengisi Bathup yang ada di dalam kamar mandi itu, kutenggelamkan diriku dalam air hangat sambil meremas-remas batang kemaluanku yang akhirnya menegang kembali karena siraman air hangat dan kukocok kembali sampai keluar lagi dan akhirnya aku berdiam diri di dalam bak air hangat itu sambil kurasakan sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kudapatkan dengan membayangkan sedang bermain dengan si Ujang.
Setelah cukup lama aku berendam dalam air hangat, kemudian aku segera mengenakan pakaian yang cukup santai, setelan celana tiga perempat yang gombor dengan kaos oblong putih, aku berniat untuk tiduran, akan tetapi karena sehabis berendam dengan air hangat dan badanku terasa segar kembali maka akhirnya aku memutuskan untuk jalan-jalan saja ke kebun teh yang terhampar luas di belakang villa ini. Hitung-hitung untuk refreshing dan mencari pemandangan hijau yang tidak pernah kudapatkan di Surabaya yang panas itu.
Langkah demi langkah aku menapaki jalan yang naik-turun dibukit-bukit itu. Sepanjang jalan ini aku mencari-cari satu sosok yang telah menyita perhatianku, akan tetapi aku tidak menemukannya. Sampai tengah hari akhirnya aku putuskan untuk kembali lagi ke villa itu, karena aku merasa lapar sekali. Aku masuki rumah masih sepi seperti tadi ketika aku meninggalkannya, tidak ada sosok Ujang yang sedang kucari menampakkan diri. Kuhampiri meja makan yang ada di bagian belakang rumah itu, ketika kubuka tutup saji, ternyata semua keperluan makan siangku sudah tersaji di sana dan masih hangat lagi, ada telor mata sapi kesukaanku, sambal lalapan yang menjadi ciri khas orang Jawa Barat, ikan asin yang membangkitkan selera makan dan masih ada beberapa lauk pauk lagi. Karena aku merasa sangat lapar sekali langsung saja kuserbu makanan yang tersedia di meja itu tanpa harus permisi dulu, kalau mau permisi yang harus kepada siapa yaa, kataku dalam hati.
Bersambung ke bagian 02


Nb : Hey semuanya salam kenal... saya adalah penggemar cerita serial gay di indonesia. jika kalian pernah mengikuti serial seperti Cowok Rasa Apel yang sekarang sudah sampai ke sesi ke tiga... saya ingin menyarankan sebuah serial berjudul "pelepasan" yang mungkin lebih terkesan dewasa dan apa adanya, saya memang baru membaca sampai ke episode ke 9 (atau remah ke 9- jika mengambil istilah dari blog tersebut) tapi menurut saya kisah yang ditulis di sana cukup mengesankan dan menjanjikan untuk diikuti kelanjutannya.
salam. lelaki Jogja. http://triztanfamous.blogspot.co.id/2016/05/pelepasan-bab-1.html     

Saturday, July 9, 2016

Then You Look at Me 03





Sambungan dari bagian 01
These walls keep a secret, that only we knew, but how long can they keep it, cause we’re two lovers who lose control. We’re two shadows chasing rainbows behind close windows behind close doors. Just two people making memories too good to tell, but this arms are never empty when we’re lying where fall. We painting picture, making magic taking chances making love. If walls could talk they would say “I want you more”. They would say “Hey… never felt like this before,” and that you would always be the one for me…
Alunan manis Celine Dion dari MTV mengiringi percintaan kami. Akhirnya aku terlena dalam permainannya, terhanyut sampai aku menikmati setiap detik sentuhannya. Saat dia menidurkan aku dan mulai mengulum penisku, aku merasakan sengatan yang luar biasa. Penisku yang uncut sangat sensitive menerima rangsangannya.
“Jangan buru-buru yah Ju..! Aku ingin menikmatinya juga..” pinta Dhean.
Aku berusaha menekan gejolakku nafsuku agar tidak cepat orgasme.
Setelah melepaskan semua pakaiannya, Dhean membalikkan badannya dan mengambil posisi 69, dia berada di atas. Aku juga mengulum penisnya.
“Ooohhh.. aahhh.. Dhean, akuuu mau keluar…” ujarku.
Dhean mempercepat kocokannya dan, “Crooot.. croot..” maniku memancar dengan derasnya ke arah wajah Dhean.
“It’s wonderful, tembakan kamu begitu kencang Ju, congratulation..! Kamu sudah merasakan nikmatnya percintaan pasangan gay..” ucap Dhean sambil memeluk dan menciumku.
Aku tersenyum puas melihat kegembiraan di matanya, kini giliranku memuaskan Dhean.
Semua berlalu dengan romantis, Dhean sangat pandai membimbingku dalam setiap permainan. Aku sampai 3 kali orgasme malam itu, dan Dhean juga. Pukul 02.45 ketika kulirik jam tanganku, saat kami akan beranjak tidur.
“Good night Honey…” bisik Dhean sambil mengecup bibirku.
Kami tidur berangkulan sampai pagi.
Pagi harinya, kami melanjutkan perjalan kami dan berhenti untuk istirahat di sebuah rumah makan di tepi danau Maninjau. Aku memutuskan untuk mengambil cuti dan akan tinggal di Padang selama 3 hari lagi. Tony dan Tanti memaklumi keinginanku, dan akan menyampaikannya pada Wahyu. Aku juga akan menelpon ke kantor pusat untuk minta ijin, alasanku aku akan mengunjungi keluarga di Padang. Dhean tersenyum ke arahku.
Senin pagi saat Tony dan Tanti pamit akan ke Bandara, aku hanya dapat mengantar mereka sampai di lobby hotel. Aku menghabiskan waktu di kamar, dan sore harinya berenang di kolam renang hotel. Malam harinya Dhean datang ke kamarku, dengan mengenakan sweater dan celana warna khaki. Dia mengajakku makan malam di Padang Pizza sebuah resto di jalan Patimura. Malam itu dia kelihatan letih, agak sakit katanya.
Setelah makan malam dan kembai ke kamarku, Dhean berbaring di bed dan memintaku menemaninya. Malam itu dia manja sekali, aku pesankan susu panas agar dia lebih segar. Kami berciuman dan terasa geli sekali, sebab kumis dan jenggutnya sudah mulai tumbuh, dan dia belum mencukurnya. Aku ambil foam untuk bercukur serta pisau cukurku. Kubersihkan kumis dan jenggotnya, kami saling bermesraan tanpa hubungan sex. Hal seperti itu yang kusuka, sex bukan satu-satunya tujuanku dalam bercinta. Kami tidur berpelukan.
Pagi hari, saat kami bangun dan mandi bersama, seperti biasa kami saling memanjakan.
“Ju, kalau aku memberikan celana dalamku buat kamu sebagai kenangan mau ngga..?” ucap Dhean sambil melap penisku dengan handuk.
“Mau aja, emangnya boleh..?” tanyaku.
“Iya… aku akan meninggalkan CD-ku buat kamu, biar kamu ingat selalu ama aku..” ujar Dhean.
Akhirnya pagi itu dia kembali ke rumahnya tanpa mengenakan CD, untuk saja sweater-nya cukup panjang untuk menutupi daerah sensitivenya.
“Nanti malam aku datang lagi yah…” ucapnya manja sambil mengecup bibirku.
Aku mengangguk dan melambaikan tangan saat dia berlalu dari kamarku.
“Oh, Dhean kamu membuat aku tidak ingin melakukan apapun tanpa kamu. Aku cinta kamu..” hatiku berbisik.
Then You look at me, and I always see what I’ve been searching for I’m lost as can be, then you look at me, and I’m not lost anymore…
Selasa pagi aku main ke kantor dan hanya bercakap-cakap ringan dengan beberapa karyawan. Dean berada di ruangannya, dan dia memanggilku untuk masuk. Dia mendekatiku dan mencium bibirku. Aku gugup karena harus melakukannya di lingkungan kerja. Dean mengunci pintu dan melanjutkan aksinya. Kami larut dalam keliaran asmara kami, dia memintaku berbaring di meja kerjanya, dan kami melakukan itu dengan tidak bersuara. Aku berhasil mengeluarkan penisnya, dan kembali melakukan blowjob.
Kami sama-sama saling memuaskan, dan akhir dari kenikmatan itu terasa begitu indah. Karena sensasinya beda, melakukan sambil takut ketahuan orang lain. Setelah selesai, kami membersihkan ceceran mani dengan tissue dan merapihkan pakaian kami.
Pukul 17.00 aku diantar mobil kantor, ke Suzuya Pasar Swalayan untuk membeli beberapa keperluanku dan diantar ke hotel. Sambil menikmati snack yang kubeli, aku menonton tayangan HBO.
Tak berapa lama telepon di ruanganku berdering, “Hai Ju, ini aku. Aku sudah di lobby mau keluar makan nggak..?” tanya Dean.
“Ya, Dean sebentar aku turun..” jawabku.
Dean mengajakku dinner di hotel berbintang di jalan Bundo Kandung, biar lebih nyaman alasannya. Aku memilih sirloin steak kesukaanku, dan Dean juga memilih menu yang sama. Saat makan tak banyak yang kami bicarakan, hanya pembicaraan ringan seputar kehidupan kami, Dean sangat tidak mau memiliki pacar dari lingkungan kantor. Soalnya kalau ketahuan bisa bahaya, alasannya. Dia juga memintaku untuk tetap merahasiakan hubungan kami, dan dia akan melakukan hal yang sama.
Saat menikmati makanan penutup, Dean terlihat lebih serius membicarakan hubungan kami. Aku menginginkan kami menjadi pasangan dan saling setia. Walau jarak memisahkan, itu dapat membuktikan kesetiaan masing-masing. Yang penting adalah kwalitas pertemuan, bukan kwantitasnya. Tapi Dean tidak setuju dengan pendapatku. Dia mengatakan jika aku kembali ke Jakarta, berarti hubungan kami berakhir. Dia juga minta maaf telah menodaiku dan membawaku ke dunia yang salah. Dia merasa salah memanggil aku honey dan memberikan celana dalamnya buatku, katanya itu hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang sudah punya komitmen sehidup semati.
Dia menyesali perbuatannya, dan memintaku melupakan dia. Bagai disambar petir aku mendengar ucapannya, air mataku mengalir membasahi pipiku. Tapi dengan cepat aku hapuskan, aku tidak mau terlihat cengeng di depan dia. Aku harus tegar dan mengikuti kemauannya.
“Ternyata aku salah menilai kamu, Dean.., aku terlanjur jatuh cinta dan sayang sama kamu, aku nggak nyangka ternyata kamu buaya. Aku yakin sudah banyak orang yang menjadi korban kamu..” ujarku sengit.
“Bukan begitu Ju, anggap saja kisah kita adalah mimpi indah kamu. Tak ada kesetiaan dan hubungan yang kekal dalam dunia G. Kamu harus siap menghadapinya. Dan yang penting kamu harus bersiap untuk menikah, just say good bye for gay world..” ujar Dean ringan.
“Nggak Dean, aku ngga bisa bersikap seperti kamu. Aku berterima kasih kamu udah bawa aku ke dunia yang nyata. Tapi aku akan buktikan kalau aku bisa mendapatkan pasangan yang setia. Aku ngga peduli sebesar apa pengorbanan yang harus kulakukan. Dan untuk menikah, suatu saat akan aku lakukan. Tapi kalau kamu minta aku berhenti dari dunia G, aku belum siap. Aku masih ingin mendapatkan kasih sayang seperti yang kuinginkan. Aku sayang kamu, tapi kalau itu mau kamu, sepertinya nggak ada yang perlu dipertahankan..” ucapku tegas.
“Walau kita sudah nggak punya hubungan khusus, tapi kita tetap berteman kan Ju..?” tanya Dean sambil meremas tanganku.
“Yes… we are friend, just friend…” jawabku.
How could an angle break my hearts. Why didn’t he catch my falling star. I wish I didn’t wish so hard, maybe I wish our love apart. How could an angle break my hearts. Oh my soul is dying, it’s crying, I’m trying to understand please help me. How could an angle break my hearts…
Alunan lagu dari Toni Braxton yang dibawakan oleh group musik di hotel itu menambah kesedihanku. Dean mengantarku kembali ke hotel, dan dia mampir ke kamarku. Aku bersikap menjaga jarak terhadapnya. Hatiku sakit dan hancur rasanya. Disaat aku menemukan duniaku dan merasakan indahnya, ternyata harus berakhir dengan cepat. Dean tidur di sampingku, dan aku berbalik membelakanginya.
Dia mengelus bahuku, “Ju jangan marah begitu dong… aku mau menemani kamu malam ini dan melanjutkan kencan kita, ini untuk yang terakhir tanda perpisahan kita..” rayu Dean.
“Tidak Dean, tidak ada cinta lagi. Hatiku sudah hambar, seperti kataku tadi, we are just friend. Aku harap kamu mau menghargaiku. Besok aku akan pulang ke Jakarta, saranku dalam menjalin hubungan, jangan memberi janji muluk untuk mendapatkan sex. Lebih baik kamu bilang terus terang bahwa itu just for fun. Aku kasihan melihat kamu, kamu nggak punya rasa cinta yang ada hanya nafsu saja..” ucapku pelan menahan air mata yang akan jatuh.
Dean terdiam, dan kami masing-masing beku dalam kebisuan. Akhirnya aku tertidur juga, setelah lelah memikirkan peristiwa ini, Dean juga tertidur pulas di sampingku. Malam itu kami bagai orang asing satu sama lain.
Aku terbangun ketika kurasakan sentuhan lembut mencium keningku. Aku mencium wangi sabun dan aroma pasta gigi dari Dean yang pagi itu telah bersiap untuk kembali ke rumahnya.
“Morning Ju.., aku mau balik ke rumah. Jam berapa pesawat hari ini..?” tanya Dean sambil dudukdi sampingku.
“Hmmm.. jam 10.30. Garuda pagi…” jawabku sambil menggeliat.
“Ok deh.., selamat jalan sampai ketemu lagi ya…” ucapnya sambil menciumku sekali lagi, kali ini lebih lama.
Aku membiarkan saja, sebab tidak mudah bagiku melupakan kisah kami hanya dalam satu malam saja.
“Ok bye… take care, I love you…” ucapku sambil mengantarnya keluar kamar.
“Ayo dong… jangan diulangi lagi. Membuat kamu sakit hati aja nanti…” ujar Dean.
“Nggak apa kok Dean, mungkin lebih baik kalau aku menganggap kamu sebagai abangku, sehingga sakit ini bisa diobati. Nggak mungkinkan adik jatuh cinta ama abangnya..? Lagipula aku nggak akan benci kamu, biar saja aku dengan kecewaku…” jawabku.
“Iya deh… terserah kamu. I’ll be your friend whenever you need..” ucap Dean.
Pagi itu setelah sarapan aku dijemput mobil kantor atas perintah Dean, aku diantarkan ke Bandara Tabing. Aku mengenakan turtle neck hitam, blazer hitam, jeans hitam, sepatu hitam dan black sun glasses. Kunikmati kesendirianku seperti saat aku belum mengenal Dean. Aku harus menghargai keputusannya dan menjalani hari-hariku. Mungkin saja ada yang berubah, karena aku sudah berani menerima dan menjalani cinta sejenis. Menyesal..? Tidak, aku harus berbesar hati menjalaninya. Aku akan lebih hati-hati memilih pacar yang kuharapkan dari kalangan eksekutif muda juga, sehingga beberapa benturan akan mudah diselesaikan seperti kisahku dengan Dean. Kunikmati alunan lagu Reza melalui headphone-ku sambil mencoba menguatkan hatiku.
Bagiku semua berarti, tapi bagimu semua sementara. Peluk kuhayati cumbu kuyakini, semata-mata dari lubuk hatiku. Namun kau coba berdalih semua tak mungkin terjadi semua tak ada artinya. Dari lubuk hati yang dalam kucoba untuk memusnahkan segala gejolak di otak kita. Kuharap mungkin ada Cinta di setiap peluk yang tercipta dan masih kuharap disini mungkin ada cinta.
TAMAT


Nb : Hey semuanya salam kenal... saya adalah penggemar cerita serial gay di indonesia. jika kalian pernah mengikuti serial seperti Cowok Rasa Apel yang sekarang sudah sampai ke sesi ke tiga... saya ingin menyarankan sebuah serial berjudul "pelepasan" yang mungkin lebih terkesan dewasa dan apa adanya, saya memang baru membaca sampai ke episode ke 9 (atau remah ke 9- jika mengambil istilah dari blog tersebut) tapi menurut saya kisah yang ditulis di sana cukup mengesankan dan menjanjikan untuk diikuti kelanjutannya.
salam. lelaki Jogja. http://triztanfamous.blogspot.co.id/2016/05/pelepasan-bab-1.html     

Then You Look at Me 02




Sambungan dari bagian 01
Pukul 05.30 pagi, saat morning call membangunkan kami, Dean mengecup keningku. Kami mandi berdua di bawah shower saling mengosok dan saling pagut tanpa permainan sex. Dalam berciuman aku selalu memejamkan mataku, menikmatinya sekaligus menghilangkan rasa malu. Aku sangat menyukai sikap dewasanya yang menghargai pasangan dalam berhubungan sex. Aku menyayanginya, serasa tak ingin berpisah darinya.
“Bagaimana malam ini, apakah kamu masih ingin melanjutkan permainan kita?” tanya Dean.
“What ever you want, Dean… I’m here waiting for your passion..” jawabku manja sambil memberikan dia ciuman sebelum kami berpisah, karena dia harus ke rumahnya untuk berganti pakaian sebelum berangkat kerja.
“Ok, Honey… see you in the office..” ucap Dean sambil berjalan menyusuri koridor meninggalkan kamarku.
Saat Dean telah berlalu, aku merenung di kamarku, menunggu waktu untuk berangkat ke kantor. Tiba-tiba ada penyesalan yang kurasakan dalam hatiku. Aku akhirnya menangis, menyesali mengapa semuanya harus terjadi. 26 tahun aku memendam dan menahan semua gejolak dan semua hasratku, aku takut akan dosa, tapi malam ini semuanya berlalu begitu saja, serasa hal yang biasa. Kukeraskan volume TV di kamarku, kukeraskan tangisku melepaskan semua sesal dan sesak yang kurasakan.
Setengah jam berlalu, aku menghampiri kaca dan bercermin. Aku merenungkan lagi, untuk apa lagi kusesali, semuanya telah terjadi dan tak dapat kupungkiri, aku menyukai permaian ini.
“Tuhan, aku manusia biasa, tak kuasa aku menghindari nafsu duniawi. Aku harus tegar, biarlah semua aku jalani dengan apa adanya. Hanya Tuhan yang tahu dan akan menghibur hatiku…” batinkumantap.
Setibanya di kantor dan bertugas, aku tak kuasa untuk selalu tersenyum ke arah Dean. Tapi dalam aktivitas kantor kami saling menyapa “Pak”, agar kesan formil tetap terjaga. Saat aku dan Team berada di ruang kerja, Dean masuk dan menanyakan hasil pemeriksaan kami. Juga menanyakan kapan keberangkatan kami kembali ke Jakarta. Aku, Tony dan Tanti menyatakan ingin berkeliling Sumatera Barat dulu, sebelum kembali ke Jakarta dan Dean menyanggupi untuk mengantar kami.
Akhirnya hari Jumat itu selesailah sudah tugas kami di Padang, dan kami merencanakan untuk refreshing. Keesokan harinya ke tempat wisata di Sumatera Barat didampingi Dean dan beberapa pejabat di kantor itu.
Malam harinya, Dean menelponku dan menanyakan apakah aku memerlukannya malam ini. Aku tak ingin mengecewakannya, walau sempat terbersit keinginanku untuk tidak mengulang kejadian kemarin. Akhirnya aku mengundangnya untuk datang ke kamarku, tak sampai lima menit dia sudah mengetuk pintu kamar. Aku kaget dan menanyakan hal itu. Ternyata saat menelepon tadi dia sudah berada di Lobby Hotel dan dia yakin kalau aku tidak akan menolaknya datang.
“Uhhh Dean… kamu jahat, sepertinya kamu selalu dapat membaca kata hatiku…” ujarku manja dalam pelukannya.
Dia menciumi rambutku, belakang telinga leher dan punggungku sambil membuka kancing kemejaku satu persatu. Gerakan tangannya begitu erotis, membelai dadaku, perut dan penisku. Aku menggeliat sambil tanganku berpegangan pada lehernya. Dean membalikkan wajahku dan mencium bibirku seperti orang kesetanan. Kupejamkan mataku, lidahku disedotnya tanpa memberikan kesempatan padaku untuk bernafas. Dia gigit bibir atasku sampai aku merasakan sakit dan mendorongnya. Dean kaget dan mengatakan maaf, dia lepas kendali karena begitu terangsang.
Aku balik menyerang dia, membuka kaosnya dan menciumi dadanya. Dia menggendongku dan kami kembali larut dalam ciuman yang memabukkan, mataku selalu terpejam. Kakiku menjepit pinggangnya, dan terasa penisnya yang sudah tegang menyodok pantatku dari bawah. Kuarahkan dia ke tempat tidur, aku membuka celananya dan memulai menciumi setiap sudut selangkangannya. Bau khas itu kembali menyeruak, membangkitkan hasratku. Kulakukan kembali blowjob-ku pada penisnya yang bagus itu. Dia mendesah dan sambil tangannya mencengkram pinggir tempat tidur.
Sekitar lima belas menit aku bermain dengan penisnya, belum ada tanda akan orgasme. Aku tanyakan hal itu padanya, jawabnya dia dapat menyetel kapan dia ingin orgasme. Lalu kukatakan aku sudah capek dan memintanya untuk keluarkan maninya dan aku minta dikeluarkan di mulutku.
Dia menatapku dalam-dalam, “Apakah kamu tidak merasa jijik Ju..?” tanya Dean.
Aku menggeleng dan mengatakan ingin merasakannya.
Akhirnya Dean minta aku merangsangnya lagi dan tak lama, “Ohhh.. aahh.. oohh.. Ju..!” kurasakan dengan derasnya mani itu memancar di mulutku.
Dan aku mencoba untuk merasakan nikmatnya, tapi tidak menelannya.
Selesai orgasme, dia menatapku dan memelukku, mengatakan blowjob-ku hebat, dan aku berani mengambil resiko dengan merasakan maninya. Lalu dia mengatakan akan memuaskanku, dia memintaku melepas celanaku.
Tapi aku menolaknya, “Tidak Dean… tidak ada hasrat lagi. Aku cukup puas sudah melakukan tugasku, bukankah itu yang kamu inginkan..?”
Dean cemberut dan memegang tanganku, “Bukan begini caranya Ju, aku nggak mau menjadi pihak yang selalu diservice, aku bisa menyenangkan kamu, please don’t make me curious..!” rengeknya manja.
“No Dean, aku nggak perlu sampai orgasme dalam berhubungan. Aku sudah puas dengan permainan kita..” jawabku sambil mengelus pipinya.
Akhirnya Dean menghargai keputusanku, dan mengatakan kapanpun aku inginkan, dia siap untuk melayaniku. Malam itu Dean tidak menginap di kamarku, dia memutuskan untuk pulang bersiap untuk keberangkatan kami esok hari.
“Good night Ju, have a nice dream…” ujarnya sambil mengecup bibirku.
Tak ada tanda kemarahan di wajahnya, aku lega.
Sabtu pagi, Dean beserta empat orang rekan kerjanya menjemput kami di Hotel. Setelah berbincang sejenak, rombongan kami dengan dua buah mobil berangkat memulai perjalanan. Aku semobil dengan Dean, karena memang dia yang mengatur, bersama kami staff Bank yang lain Pak Hendri dan Pak Tri. Sedang di mobil lain Tony, Tanti, Pak Ray, Ibu Era dan Ibu Riri istri Pak Ray. Aku duduk di kursi tengah bersama Dean, sedangkan Pak Hendri duduk di samping Pak Tri yang membawa mobil kami.
Sepanjang perjalanan tak pernah habis bahan pembicaraan kami, dan pada beberapa kesempatan Dean dengan nakal meremas tanganku, pahaku bahkan tangan jahilnya bergerak mengelus penisku. Aku hanya dapat memberikan cubitan kecil dan kerdipan mata, karena takut ketahuan oleh Pak Tri dan Pak Hendri yang duduk di depan kami. Perjalan kami dimulai dari Solok, menikmati pemandangan indah danau-danaunya. Lalu menyusuri danau Singkarak perjalan kami menuju utara ke Batu sangkar, Payakumbuh dan berhenti di Bukittinggi untuk beristirahat.
Ternyata pihak personalia sudah mem-‘book’ empat buah kamar untuk kami tempati di Hotel Novotel yang megah itu. Lagi-lagi Dean yang mengatur, aku kebagian satu kamar dengan dia. Pak Tri dengan Pak Hendri, Tony dengan Pak Ray, sedangkan Tanti bergabung dengan Bu Riri dan Bu Era.
“Mau mandi bareng aku Honey..?” bisiknya saat kami sudah berada di kamar, dengan hanya mengenakan Balmoral-England celana dalamnya.
Hmmm.., tubuhnya seksi sekali, kulit kuningnya kontras dengan CD mini warna hitam. Aku tersenyum dan mengangguk sambil melepaskan pakaianku. Dean membimbingku ke arah bath room, kami melepaskan CD kami masing-masing dan duduk di dalam bath tub sambil menikmati guyuran air hangat dari shower.
Dia menggosok tubuhku dengan sabun cair, setiap lekuk tubuhku digosoknya dengan halus. Lalu memberi shampoo pada rambutku dan membilas tubuhku dengan mesra. Aku pun melakukan hal yang sama padanya, dan setelah itu kami saling mengeringkan badan dengan handuk dan berjalan ke arah tempat tidur. Dingin AC menyergap kulitku, kurapatkan tubuhku ke tubuh Dean, dia tersenyum ke arahku dan menyergap bibirku, kami pun hanyut dalam ciuman yang menggelora.
“Krrriiiing…” kami terkejut saat pesawat telepon di kamar berbunyi.
Dean lalu mengangkat dan berbicara di telpon. Ternyata Pak Tri memberitahukan bahwa semuanya telah berkumpul di Lobby untuk memulai acar makan malam.
“Wah nggak sempat ya Ju.., but tonight you are mine..” ujarnya sambil mengedipkan matanya.
Aku deg-degan mendengar ucapannya, “Tapi jangan paksa aku ya Dean, biarkan semuanya mengalir sampai aku benar-benar siap. Kamu bisa bayangkan 26 tahun aku memendam ketakutan, so biarkan aku yang memutuskan..” pintaku.
Dean mengangguk dan memberikan kecupan manis di keningku, kami pun beranjak turun.
Makan malam berlalu dengan kegembiraan, tak henti-hentinya kami saling bercanda. Tapi satu hal yang membuat aku gembira, Dean selalu berada di sampingku. Aku yakin hal ini tak membuat orang curiga, karena walaupun berdampingan, bahasa tubuh kami tidak menunjukan kemesraan.
Pukul 23.00, saat kami masing-masing kembali ke kamar setelah letih berkaraoke dan bermain bilyard. Dhean tersenyum manis sekali ke arahku, dia beranjak ke wastafel membersihkan wajah dan menggosok gigi. Lalu mengganti pakaian dengan pakaian tidurnya, aku pun membersihkan diri dan bersiap mengenakan pakaian tidurku. Tapi aku terhenti ketika sepasang tangan kokoh mencegahku. Aku hanya mengenakan celana dalam HOM-ku warna biru terang, dan berdiri menghadap Dhean. Dhean memulai serangannya dengan menciumi leher, dada dan perutku. Belaiannya begitu menenangkanku sekaligus merangsangku. Tangannya meremas pantatku dan akhirnya membuka CD-ku.
Dhean terhenti sejenak dan memandangi penisku, “Kamu uncut Ju..? Kenapa nggak bilang sebelumnya…”
“Kenapa, apakah kamu nggak suka..?” tanyaku sambil berusaha mengenakan kembali CD-ku.
“Bukannya nggak suka, justru suka sekali…” jawabnya sambil menahan tanganku dan melepaskan kembali CD miniku.
Bersambung ke bagian 03


Nb : Hey semuanya salam kenal... saya adalah penggemar cerita serial gay di indonesia. jika kalian pernah mengikuti serial seperti Cowok Rasa Apel yang sekarang sudah sampai ke sesi ke tiga... saya ingin menyarankan sebuah serial berjudul "pelepasan" yang mungkin lebih terkesan dewasa dan apa adanya, saya memang baru membaca sampai ke episode ke 9 (atau remah ke 9- jika mengambil istilah dari blog tersebut) tapi menurut saya kisah yang ditulis di sana cukup mengesankan dan menjanjikan untuk diikuti kelanjutannya.
salam. lelaki Jogja. http://triztanfamous.blogspot.co.id/2016/05/pelepasan-bab-1.html    

Then You Look at Me 01




“Masuk Ju, silahkan duduk…” ujar Pak Wahyu datar ketika aku sudah berada di depan pintu ruang kerjanya.
Aku tersenyum, kulihat tidak ada tanda keseriusan seperti jika ada masalah sulit.
“Begini Ju, hasil rapat dengan dewan Direksi kemarin memutuskan bahwa per 1 Februari 2001 akan ada rotasi kerja Team Audit kita. Team yang biasa bertugas di wilayah Timur akan bertugas di wilayah Barat, Team wilayah Barat bertugas di wilayah Tengah dan Team wilayah Tengah bertugas di wilayah Timur. Hal ini saya sampaikan person by person karena sifatnya flexible, jadi satu Team bisa saja berubah personilnya. Menurut kamu bagaimana, Ju..?” demikian pertanyaan Pak Wahyu.
“Bagi saya itu bukan masalah, Pak. Saya menerima apapun kebijaksanaan perusahaan. Dan bagi saya bekerja dengan siapapun saya bersedia, walaupun anggota Team akan berubah.” jawabku diplomatis.
Setelah terlibat beberapa obrolan sekitar 45 menit, “Baik kalau begitu, sebagai anggota Team akan ada surat yang harus ditanda tangani dan kita lihat saja schedule-nya lusa. Bersiap-siapuntuk wilayah Barat ya, Ju..!” kata Pak Wahyu sambil berdiri dan mengulurkan tangan menjabat tanganku.
Aku menjabat tangannya dan mohon diri dari ruangan Pak Wahyu.
Sambil berjalan menuju ruanganku, yang terlintas dalam pikiranku adalah, “Aku akan menjalani wilayah kerja Barat, hmmm Padang… bagaimana perkembangannya ya..!”
Aku tersenyum membayangkan akan bertugas ke Padang, Pekanbaru, Batam, Medan dan Aceh. Teringat kembali masa indah saat kuliah di sebuah PTN di Padang. Tapi yang penting dengan solid-nya Team, kami dapat menjalani tugas yang dibebankan perusahaan.
“Ju… jangan lupa hari Senin 6.30 udah dijemput lho…” keta sekretaris divisi yang mengurus keberangkatanku beserta Team ke Padang mengingatkan saat kami akan berpisah di parkiran Jumat sore itu.
02 April 2001 kuisi appointment di Siemens S35-ku.
Pukul 6.15 – To Airport.
Aku tersenyum membayangkan tugas terakhir kami di semester 1 tahun ini. Success..! Itu yang kami harapkan.
“Julian..!” ucapku saat mengenalkan diri kepada Manager cabang yang kami kunjungi.
“Dean…” balasnya ramah dengan senyumnya yang hangat dan simpatik, usianya 28 th (hebat… di usia muda sudah mencapai posisi puncak) lebih tua 2 tahun dari usiaku.
Kami terlibat obrolan serius mengenai tugas kami, tapi dalam perbincangan tersebut beberapa kali dia menatapku dalam-dalam sambil tersenyum menggoda (itu yang aku rasakan…). Aku menepis perasaanku, semoga tidak ada arti ‘lain’.
Hari-hari berlalu di kota Padang, dalam setiap kesempatan setelah jam dinas, aku, Tony dan Tanti menyempatkan berjalan-jalan di kota Padang ditemani beberapa orang karyawan. Tak banyak perubahan yang tampak, kebersihan masih tetap terjaga, tapi yang menyolok adalah maraknya prostitusi di sepanjang jalan Diponegoro. Tugas kami hampir selesai, tinggal penyusunan laporan, dan akan disampaikan pada hari Kamis di depan Branch Meeting dengan seluruh karyawan.
Selama beberapa hari bertugas, aku selalu menghindari pertemuan berduaan dengan Pak Dean, perbincangan kami selalu bersama Team. Hingga setelah evaluasi pada hari Kamis pukul 19.30 WIB, dia mengundang kami untuk diner di sebuah Hotel berbintang di bilangan Bundo Kandung ditemani Pak Hendri dan Pak Ray pejabat cabang. Dia selalu menempatkan dirinya di sampingku sambil menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan dinas, diselingi pertanyaan yang bersifat pribadi.
Makan malam itu berjalan lancar, canda-canda ringan mengiringi suasana sehingga tidak terkesan kaku. Ternyata Pak Hendri satu almamater denganku saat kuliah di sebuah PTN di Padang, dia lebih tua 5 tahun dariku. Dan Isteri Pak Ray ternyata teman Tanti semasa SMU di Bandung. Sepertinya banyak kebetulan yang membuat kami saling bernostalgia.
Saat akan pulang aku menghampiri mobil yang kunaiki saat akan berangkat tadi. Ternyata itu adalah mobil Pak Dean, sementara Tony dan Tanti naik mobil lain bersama Pak Hendri dan Pak Ray. Aku grogi menghadapi situasi ini dan berusaha untuk pindah ke mobil Pak Ray bersama Tony dan Tanti.
“Nggak apa Pak Julian, bareng saya saja…” kata Pak Dean.
“Iya Pak Ju, lagian saya mau membawa Bu Tanti ke rumah saya nih, biar ketemu dengan isteri saya..” tambah Pak Ray.
“Gue juga ikut Ju, lu pulang duluan aja deh ya… see you tomorrow…” timpal Tony.
Aku merasa terpojok dengan situasi seperti ini, akhirnya hanya dapat pasrah, dan Pak Dean akan mengantarku ke Hotel di jalan Juanda yang kami tempati.
Laugh and cry, live and day life is a dream we are dreaming day by day. I’ll find my waylook for the soul and the meaning, then you look at me, and I’ll always see what I’ve been searching for… I’m lost as can be, then you look at me and I’m not lost anymore.
Tembang manis Celine Dion mencairkan suasana sepanjang perjalanan, Pak Dean beberapa kali mencuri-curi pandang ke arahku saat kami bercerita. Aku ceritakan bahwa aku fresh graduated saat masuk Bank tempat kami bekerja. Dan aku pernah tinggal di kota Padang sekitar 5 tahun untuk menyelesaikan kuliah di sebuah PTN di Padang.
Pak Dean banyak bertanya tentang aku, tentang kesendirianku.
Saat memasuki lapangan parkir, “Boleh mampir nggak Pak Ju..?” tanya Pak Dean.
“Hmmm.. boleh Pak, silakan..!” jawabku tergagap.
Dengan alasan agak sakit perut, Pak Dean mampir ke kamarku dan menggunakan toilet di kamarku.
“Pak Ju, saya agak gerah nih, boleh saya mandi sekalian..?” tanya Pak Dean dari dalam kamar mandi.
“Iya, silakan Pak…” jawabku setengah berteriak.
Setelah Pak Dean selesai mandi, aku juga bergegas mandi. Selesai mandi, kulihat Pak Dean berbaring di spring bed sambil menonton TV hanya menggunakan kaos dalam dan celana kerjanya.
“Wah.., kamarnya nyaman ya, Ju. Bisa-bisa saya betah dan ketiduran disini nih…” kata Pak Dean.
“Kalau mau bermalam, ya silakan aja Pak..” jawabku basa-basi.
“Nggak usah panggil Pak, deh Ju… panggil Dean aja. Usia kita kan nggak berbeda jauh. Tapi bener nih nggak keberatan..?” tanya Pak Dean lagi.
Uppps… aku jadi bingung menghadapinya, sebab bed di kamarku hanya ada double bed (satu bed untuk dua orang). Pertanyaan dan ucapannya selalu menjebakku, aku mulai merasakan sesuatu akan terjadi padaku malam ini.
Kulirik jam tanganku, sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Aku beranikan diri rebahan di sampingnya sambil menyaksikan tayangan HBO. Dia bersandar ke sisi tempat tidur dan tersenyum ke arahku dan memancingku bercerita tentang dunia gay. Dia juga mengaitkan dengan kesendirianku. Aku berusaha mengelak dan mengatakan aku bukan gay. Walau sebenarnya sejak SMU aku sudah merasakan kalau aku gay, tapi aku selalu menutup rapat keinginanku itu. Aku takut..!
Dia mulai bercerita kalau dia pernah melakukan cinta sejenis, dia katakan hubungan itu terindah yang pernah dia rasakan. Karena saling berbagi kepuasan dan saling mengerti keinginan. Dia mengatakan feeling-nya yakin kalau aku juga gay, tetapi masih malu mengakui walau sebenarnya ingin merasakan keindahan hubungan itu. Aku luruh mendengar cerita dan perhatiannya, aku katakan aku tidak pernah menghindari bergaul dengan kaum gay, tetapi aku belum berani untuk memulai. Ternyata jawabanku itu membuanya semakin berani, dia mulai memelukku. Dan mengatakan akan membimbingku supaya berani menerima kenyataan hidup.
Aku rasakan debaran yang luar biasa, sampai aku sulit untuk bernafas. Kakiku gemetaran dan kukatakan aku tidak berani memulainya. Tapi karena dia sudah berpengalaman, dia berusaha membimbingku ke arah kemesraan yang dalam.
Aku berdoa dalam hati, “Jika Tuhan tidak menginginkan aku jatuh ke dalam pelukannya, kuatkan aku untuk menolaknya.”
Tapi keadaan tidak berubah, karena mungkin seharusnya dari hatiku sendiri yang menolak perlakuan ini. Aku sadar aku yang salah dan aku lemah, stimulasinya begitu membangkitkan gairahku, ditambah bau parfum yang melekat di kaos dalamnya semakin membuaiku.
Dia mulai menciumi leherku, dan mengajariku French kiss yang sensasinya kurasakan luar biasa. Saat berciuman aku menutup mataku, sambil berciuman dia membuka bajuku dan celanaku satu persatu. Akhirnya tubuh kekar itu (178/66) menindih tubuhku (168/56) tanpa dapat aku menghindar lagi. Aku larut dalam buaian asmara yang liar. Dia menciumi setiap lekuk tubuhku, gairahnya begitu liar, sehingga dalam setiap ciumannya disertai hisapan yang meninggalkan bekas merah pada tubuhku.
Saat dia mencapai penisku yang masih terbungkus celana dalamku, aku menghindar dan membalas perlakuannya dengan membuka pakaian serta celananya satu persatu. Mulut kami terus saling pagut, saling sedot dan lidah kami saling berpilin. Aku hanyut.
“Biarkan aku menikmatimu, biarkan hasrat ini terpuaskan..” bisikku manja pada Dean.
Dia mengangguk “Silakan Ju… puaskanlah seluruh dahagamu. Nimatilah setiap detik permainan ini. I’m yours tonight..” sahut Dean sambil berbaring menerima seranganku.
Kunikmati setiap lekuk tubuhnya, kuciumi dari bibir, puting, perut hingga daerah penisnya. Penisnya bagus sekali, walaupun belum disunat tetapi kulupnya selalu tertarik saat penisnya ereksi, warnanya sama dengan warna kulitnya yang kuning bersih. Sempat terbersit ragu untuk mengulum penisnya, tapi aku yakin dia bersih, sehingga bagai anak kecil yang diberi ice cream, aku nikmati “ice cream” ini dengan sepenuh hatiku. Kukulum, aku keluar masukkan di mulutku sambil kuhisap, aku hanya mengingat dari apa yang kubaca dan kusaksikan di vcd gay.
Dean menikmati permainanku sambil mendesah, “Hhhmmm.. ah… aaa… teruskan Ju… ahhh.. ahmm… you’re so wonderful tonight hhhmmm aahhh…” sampai pada klimaksnya, dia memberiku kode untuk tidak mengulum penisnya dan, “Crot… crottt…” beberapa kali semburan spermanya membasahi wajahku.
Kucium bau sperma itu, Dean mencegahku untuk menjilatnya, “Jangan Ju, jijik…” katanya.
Setelah aku membersihkan wajahku dengan handuk, aku merasakan gairahku sudah mereda dan aku tidak menginginkan sex lagi.
Tapi ternyata Dean masih penasaran dan ingin memuaskan aku, “Please Ju… I’ll make you satisfied..” rengeknya manja.
“Don’t do that Dean, not now. I’m not ready tonight..” balasku sambil mengenakan pakaianku.
“Cukup, kamu sudah membuatku puas tanpa harus melakukan hal itu padaku, it’s enough” jelasku lagi.
Akhirnya dia membersihkan diri dan berpakaian, lalu berbaring lagi di sampingku.
“Apa yang ingin kamu rasakan lagi, Ju..” tanya Dean.
“Malam ini aku ingin berbaring dan tidur dalam dekapanmu. Dean.., aku ingin merakan kehangatan seorang pria yang selama ini aku cari…” jawabku.
Malam itu Dean menginap di kamarku, dan kami tidur dalam senyum ketenangan, saling berbagi kehangatan.
And you say you see, when you look at me the reason you love life so thought lost. I have been I find a love again, and live just keeps on running. You look at me and life comes from you…
Senandung cinta itu yang kulantunkan dalam mimpiku, aku telah menemukan seseorang yang dapat mengerti aku. Aku akan labuhkan cintanya di hatiku. Aku akan memberikan apapun yang dapat kuberikan. I love you Dean…
Bersambung ke bagian 02



Nb : Hey semuanya salam kenal... saya adalah penggemar cerita serial gay di indonesia. jika kalian pernah mengikuti serial seperti Cowok Rasa Apel yang sekarang sudah sampai ke sesi ke tiga... saya ingin menyarankan sebuah serial berjudul "pelepasan" yang mungkin lebih terkesan dewasa dan apa adanya, saya memang baru membaca sampai ke episode ke 9 (atau remah ke 9- jika mengambil istilah dari blog tersebut) tapi menurut saya kisah yang ditulis di sana cukup mengesankan dan menjanjikan untuk diikuti kelanjutannya.
salam. lelaki Jogja. http://triztanfamous.blogspot.co.id/2016/05/pelepasan-bab-1.html